Kamis, 16 Mei 2013

ILMU KEALAMAN DASAR


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Akhir - akhir ini pembicaraan tentang sumber daya manusia semakin terdengar. Hal ini tidak lepas dari kesadaran bersama bahwa manusia tidak hanya sebagai penikmat pembangunan. Disamping itu muncul juga kesadaran bahwa pembangunan tidak hanya bisa tergantung pada sumber daya alam. Teknologi sebagai sumber daya pembangunan yang lain memang menjadi penting pula belakangan ini. Namun perkembangan dan pemanfaatan teknologi itu sendiri sangat tergantung pada manusia. Pengalaman-pengalaman negara maju seperti Jerman, Inggris, Perancis, Amerika Serikat, serta negara-negara industri baru seperti Korea Selatan dan Taiwan menunjukkan bahwa pertumbuhan mereka sebagian mereka besar didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas tinggi.
Seperti yang kita ketahui, teknologi kini telah merembes dalam kehidupan kebanyakan manusia bahkan dari kalangan atas hingga menengah kebawah sekalipun. Dimana upaya tersebut merupakan cara atau jalan di dalam mewujudkan kesejahteraan dan peningkatan harkat martabat manusia.
Atas dasar kreatifitas akalnya, manusia mengembangkan IPTEK dalam rangka untuk mengolah SDA yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, dimana dalam pengembangan IPTEK harus didasarkan terhadap moral dan kemanusiaan yang adil dan beradab, agar semua masyarakat mengecap IPTEK secara merata. Masih banyak masyarakat kurang mampu yang putus harapannya untuk mendapatkan pengetahuan dan teknologi tersebut. Hal itu dikarenakan tingginya biaya pendidikan yang harus mereka tanggung. Maka dari itu, pemerintah perlu menyikapi dan menanggapi masalah-masalah tersebut, agar peranan IPTEK dapat bertujuan untuk meningkatkan Sumber Daya Manusia
Sejarah penggunaan pupuk pada dasarnya merupakan bagian daripada sejarah pertanian. Penggunaan pupuk organik diperkirakan sudah dimulai sejak permulaan manusia mengenal bercocok tanam, yaitu sekitar 5.000 tahun yang lalu. Bentuk primitif dari penggunaan pupuk dalam memperbaiki kesuburan tanah dimulai dari kebudayaan tua manusia di daerah aliran sungai-sungai Nil, Euphrat, Indus, Cina, dan Amerika Latin. 
Di Indonesia, pupuk organik sudah lama dikenal para petani. Penduduk Indonesia sudah mengenal pupuk organik sebelum diterapkannya revolusi hijau. Setelah revolusi hijau, kebanyakan petani lebih suka menggunakan pupuk buatan karena praktis menggunakannya, jumlahnya jauh lebih sedikit dari pupuk organik, harganyapun relatif murah, dan mudah diperoleh.
Indramayu selama ini dikenal dengan lumbung padi Jawa Barat. Dengan produksi sekitar 1,03 juta ton (2006), Indramayu menyumbang sekitar 11% produksi padi Jawa Barat (9,4 juta ton), atau sekitar 2% produksi padi nasional (sekitar 57 juta ton). Tingginya produksi padi Indramayu ini disebabkan oleh luasnya lahan sawah yang ada. Dari luas wilayah Indramayu yang mencapai 204 ribu ha, 114 ribu ha (55%) di antaranya adalah lahan sawah. Dengan luas sebesar itu, Indramayu menempati urutan pertama di Jawa Barat. Posisi ke dua ditempati oleh Karawang dan Subang. Bukan hanya dari sisi luas lahan, dari sisi produktivitas pun, Indramayu masih menempati urutan pertama, dengan produktivitas sekita 5,5 ton per ha (2006). Sektor pertanian merupakan salah satu pilar penting penggerak perekonomian Indramayu. Data tahun 2002 menunjukkan kontribusi sektor ini terhadap PDRB Indramayu mencapai 16%, atau penyumbang terbesar ke tiga setelah sektor migas (45%) dan industri (22%). Meskipun pada tahun-tahun berikutnya, peran sektor ini semakin menurun. Pada tahun 2007, sektor pertanian menyumbang sebesar 14% PDRB. Namun, jika tidak memperhitungkan sektor migas, pertanian merupakan penyumbang terbesar PDRB Indramayu, yakni sebesar 38% (2007).
Selain itu, sektor pertanian juga menyerap sekitar 52% tenaga kerja. Artinya, sektor pertanian merupakan representasi dari kegiatan ekonomi ril masyarakat Indramayu. Dengan membangun sektor ini, selain akan meningkatkan pendapatan perkapita, juga akan memperbaiki distribusi pendapatan masyarakat. Pertanyaannya, apakah potensi ekonomi pertanian yang sedemikian besar itu juga berkorelasi positif terhadap kesejahteraan petani Indramayu?
Kebanyakan petani sudah sangat tergantung pada pupuk buatan, sehingga dapat berdampak negatif terhadap perkembangan produksi pertanian.  Tumbuhnya kesadaran para petani akan dampak negatif penggunaan pupuk buatan dan sarana pertanian modern lainnya terhadap lingkungan telah membuat mereka beralih dari pertanian konvensional ke pertanian organik. Meskipun demikian, agar kuantitas produksi tetap terjaga maka penggunakan pupuk anorganik tetap dianjurkan untuk digunakan secara berimbang.
Salah satu potensi bahan pupuk organik yang sangat melimpah di indonesia adalah jerami padi. Dengan luas areal persawahan yang sangat luas, maka sangat dimungkinkan limbah jerami menjadi bahan baku utama dalam pembuatan pupuk organik.
B.     Rumusan Masalah :
  1. Bagaimana Pemanfaat Limbah Jerami Menjadi Bahan Baku Utama Dalam Pembuatan Pupuk Organik ?
  2. Bagaimana Hakikat Manusia dan Sifat Keingintahuannya ?
  3. Bagaimana Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi ?
  4. Bagaimana Penyebaran dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi?




BAB II
PEMANFAAT LIMBAH JERAMI MENJADI BAHAN BAKU UTAMA DALAM PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

A.    Membangun Mindset Petani dalam Mengolah Limbah Pertanian
      Secara alami bahan-bahan organik akan mengalami penguraian di alam dengan bantuan mikroba maupun biota tanah lainnya. Namun proses pengomposan yang terjadi secara alami berlangsung lama dan lambat. Untuk mempercepat proses pengomposan ini telah banyak dikembangkan teknologi-teknologi pengomposan. Baik pengomposan dengan teknologi sederhana, sedang, maupun teknologi tinggi.
      Pada prinsipnya pengembangan teknologi pengomposan didasarkan pada proses penguraian bahan organik yang terjadi secara alami. Proses penguraian dioptimalkan sedemikian rupa sehingga pengomposan dapat berjalan dengan lebih cepat dan efisien. Teknologi pengomposan saat ini menjadi sangat penting artinya terutama untuk mengatasi permasalahan limbah organik, seperti untuk mengatasi masalah sampah di kota-kota besar, limbah organik industri, serta limbah pertanian dan perkebunan.
      Limbah pertanian yang paling banyak dihasilkan oleh petani, khsusnya di Indonesia adalah jerami padi, jagung dan kacang-kacangan. Meskipun melimpah, limbah ini belum mampu diolah secara maksimal oleh petani. Bahkan terkadang petani kebingungan dalam mencari solusi penanganan limbah setelah musim panen. Ahirnya solusi yang sering dilakukan oleh petani adalah membakar limbah-limbah tersebut. Padahal dengan melakukan pembakaran limbah, sesungguhnya petani telah mengalami kerugian karena unsur hara yang terdapat di dalam sisa pertanaman tidak bisa dimanfaatkan untuk dikembalikan ke dalam tanah tempat petani melakukan budidaya pertanian. Padahal dengan introduksi teknologi sederhana, sesungguhnya limbah-limbah tersebut sudah dapat diolah menjadi pupuk organik tanpa harus mengeluarkan banyak biaya. Tapi kenapa petani jarang yang melakukan pengolahan limbah menjadi pupuk organik, khususnya di tempat di mana mereka bercocok tanam?
      Ada banyak faktor yang berpengaruh sehingga petani tidak melakukan pengolahan limbah pertaniannya, diantaranya adalah :
1.      Petani tidak memahami manfaat limbah pertanian.
Selama ini petani selalu berinteraksi dengan berbagai jenis limbah pertanian dalam kehidupannya. Namun demikian, mereka sangat jarang memikirkan manfaat yang bisa diperoleh dari limbah tersebut. Mereka hanya menganggap bahwa limbah tersebut hanyalah sampah yang harus dihilangkan karena mengganggu proses budidaya pertanian. Oleh karena itu, jalan pintas yang umum dilakukan adalah membakar limbah-limbah tersebut menjelang pengolahan tanah. Lalu apa yang harus dilakukan oleh aparat pemerintah, khususnya para penyuluh?
Memberi bimbingan kepada petani adalah salah satu solusinya. Tentunya sebelum melakukan pembinaan kepada petani, penyuluh harus memahami lebih dahulu manfaat limbah pertanian dan cara pengolahannya.
2.      Petani tidak mengetahui cara mengolah limbah pertanian
Tidak mengetahui cara mengolah limbah pertanian merupakan salah satu persoalan yang banyak terjadi di masyarakat, khususnya petani. Oleh karena itu penyuluh pertanian harus memiliki kemampuan untuk mengolah limbah pertanian menjudi pupuk organik. Dengan demikian diharapkan bisa memberikan solusi kepada petani dengan contoh yang tepat dalam pengolahan limbah pertanian.
3.      Petani malas melakukan pengolahan limbah pertanian
Sudah menjadi tradisi bahwa salah satu penyakit masyarakat adalah sikap malas. Penyakit ini juga banyak dialami oleh para petani di negeri ini. Karena sudah terbiasa dengan hal-hal yang bersifat instant, khususnya dalam penggunanaa pupuk, maka petani seringkali malas menggunakan pupuk organik karena dianggap tidak bisa memperlihatkan hasil secara cepat. Akbitnya adalah petani malas mengolah limbah pertaniannya menjadi pupuk organik. Jangankan untuk menggunakan pupuk organik dari hasil olahan sendiri, terkadang menggunakan pupuk organik bersubsidi pun petani banyak mengeluh, khususnya dalam hal pengangkutan ke sawah dan lambatnya reaksi terhadap pertanaman.
4.      Pengolahan limbah secara modern yang selama ini banyak diperkenalkan ke masyarkat terkesan sulit untuk dilakukan.
Selama ini metode yang banyak diperkenalkan kepada masyarakat dalam mengolah limbah pertanian bersifat semi modern. Artinya pengolahan limbah yang menggunakan mesin sederhana untuk membantu pengecilan ukuran bahan organik agar lebih mudah dalam proses penguraian. Akibatnya adalah dalam benak petani tertanam pemikiran bahwa untuk mengolah limbah menjadi pupuk organik harus tersedia mesin pencacah terlebih dahulu. Jika pemikiran ini sudah menjadi mindset petani, maka dapat dipastikan bahwa alasan pertama yang akan mereka sampaikan ketika diminta mengolah limbah pertanian adalah “tidak punya mesin pencacah”. Meskipun saat ini banyak mesin pencacah yang diberikan dalam bentuk hibah ke petani, tetapi hal ini sering kali tidak memberikan solusi dalam pengolahan limbah pertanian. Disamping keterbatasan dana pemerintah yang tidak sebanding dengan jumlah petani, membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya keberadaan pupuk organik dalam proses budidaya pertanian harus lebih diutamakan dalam rangka membangun mindset petani bahwa sesungguhnya mereka yang sangat membutuhkan pupuk organik. Jika mindset ini sudah terbangun, maka ada bantuan atau tidak, petani akan tetap membuat pupuk organik, baik dengan mesih pencacah atau mencacah secara manual.
5.      Petani tidak memahami manfaat pemberian pupuk organik pada tanah
Ketika petani tidak memahami manfaat pemberian pupuk organik pada tanah, maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan acuh tak acuh dalam menggunakan pupuk organik. Sehingga menjadi salah satu fondasi yang harus dibangun dalam rangka mensukseskan penggunaan pupuk organik di kalangan petani adalah memberikan pemahaman pentingnya penggunaan pupuk organik dalam perbaikan unsur hara tanah. Jika tanah sudah memiliki unsur hara yang memadai, maka dengan introduksi teknologi yang sederhanapun, produksi pertanian akan meningkat.
B.     Membuat Pupuk Organik di Wilayah Produksi Pertanian
Saat ini masih sangat jarang dilakukan pengolahan limbah pertanian di wilayah produksi pertanian. Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan sumberdaya, khususnya sumberdaya manusia. Beberapa lahan pertanian yang potensial untuk dilakukan pengolahan limbah secara langsung adalah :
1)    Pengolahan limbah jerami padi di lahan sawah
2)    Pengolahan limbah jerami jagung di lahan pertanaman
3)    Pengolahan limbah kacang-kacangan di lahan pertanaman
C.    Cara pengolahan limbah jerami padi di lahan sawah
Padi atau tanaman menyerap unsur hara dari dalam tanah. Dengan bantuan energi dari sinar matahari, hara dari dalam tanah ditambah dengan CO2 dari udara ini diubah menjadi senyawa komplek untuk membentuk batang, daun, dan bulir-bulir padi/beras. Padi/beras akan dipanen dan dibawa ke tempat lain, sedangkan jerami sisa-sisa panen umumnya dibakar.
Proses ini berlangsung lama. Unsur hara dan bahan organik tanah semakin lama akan semakin habis. Selama ini unsur hara lebih banyak dipenuhi dengan menambahkan pupuk-pupuk kimia anorganik. Bahan-bahan organik yang ada di dalam tanah tidak mendapat perhatian dan kandungannya di dalam tanah semakin menipis. Jerami yang dihasilkan dari sisa-sisa panen sebaiknya jangan dibakar, tetapi diolah menjadi kompos dan dikembalikan lagi ke tanah. Kompos jerami ini secara bertahap dapat menambah kandungan bahan organik tanah, dan lambat laun akan mengembalikan kesuburan tanah.
Kompos selain dibuat dari jerami dapat juga dibuat dari seresah atau sisa-sisa tanaman lain. Rumput-rumputan, sisa-sisa daun dan batang pisang, atan daun-daun tanaman dapat juga dibuat kompos. Pada prinsipnya semua limbah organik dapat dijadikan kompos.
Batang kayu, bamboo, ranting-ranting pohon, atau tulang juga termasuk bahan organik tetapi sebaiknya tidak ikut dikomposkan dengan jerami. Limbah-limbah ini termasuk limbah organik keras. Meskinpun dapat juga dibuat kompos, namun bahan-bahan ini memerlukan waktu yang lama untuk terdekomposisi.
Berikut ini akan dijelaskan cara mengolah pupuk organik di wilayah produksi pertanian, khususnya pada lahan sawah.
Bahan : jerami padi, kotoran ternak, air, arang sekam, aktivator/dekomposer, air gula
Peralatan : gembor/ember, gayung.
Cara membuat :
1.      Membuat bak fermentasi dari bambu. Ukuran bak fermentasi disesuaikan dengan kebutuhan, yaitu berapa banyak bahan yang akan diolah.
2.      Pengecilan ukuran bahan.
Saat panen, umumnya petani sudah menggunakan power trheser. Jerami yang yang dihasilkan dari hasil olahan mesin power trheser saat panen sudah memiliki ukuran yang kecil. Oleh karena itu jerami ini sudah dapat diolah menjadi pupuk organik meskipun tidak diperkecil lagi. Jika tidak menggunakan mesin power trheser  saat panen, maka jerami padi dapat diolah secara manual.
Pengecilan ukuran bahan berfungsi untuk mempercepat proses pelapukan/penguraian.
3.      Mencampur air, aktivator, dan air gula. Adapun komposisinya adalah : Aktivator     : 10 - 20cc
Air gula/mollases    : 5 - 10 cc
Air     : 10 liter
Bahan tersebut dimasukkan ke dalam ember/gembor lalu diaduk hingga bercampur secara merata, kemudian disiramkan pada bahan.
4.      Menyiram bak fermentasi
Sebelum bahan disusun pada bak fermentasi, sebaiknya disiram terlebih dahulu dengan air yang sudah dicampur dengan aktivator dan mollase. Penyiraman ini berfungsi agar pada bagian dasar tempat fermentasi sudah terdapat mikroba pengurai.
5.      Memasukkan bahan ke bak fermentasi
Saat memasukan bahan ke bak fermentasi sebaiknya disusun secara berlapis dengan bentuk susunan sebagai berikut :
a)      Masukkan kotoran ternak pada bagian paling bawah dengan ketebalan 3cm, lalu siram dengan air yang sudah dicampur dengan aktivator.
b)      Masukkan jerami pada lapis ke dua dengan ketebalan 10 cm, lalu siram dengan air yang sudah dicampur dengan aktivator.
c)      Masukkan kotoran ternak pada lapis ke 3 ketebalan 5 cm, lalu siram dengan air yang sudah dicampur dengan aktivator.
d)     Lakukan pengulangan pada poin b) hingga tinggi tumpukan mencapai 0,5 – 1 m. Setelah tumpukan mencapau 1 meter, maka simpanlah arang sekam pada bagian atas tumpukan, lalu siram dengan air yang sudah dicampur dengan aktivator.
6.      Lepas bak fermentasi
7.      Tutuplah bahan dengan menggunakan terpal atau karung goni.
Demikianlah cara membuat pupuk organik khususnya di lahan produksi pertanian. Cara ini tergolong lebih mudah dibandingkan petani harus mengankut jerami dari sawah untuk kemudian diolah ditempat khusus. Keuntungan lainnya dari pengolahan langsung di lahan pertanian adalah petani dapat langsung mengaplikasikan setiap menjelang musim tanam tanpa harus memikirkan biaya angkut.
D.    Keunggulan Cara Ini
         Mudah. Cara pembuatannya sangat mudah sekali. Semua bahan bisa diperoleh di tempat. Hanya aktibatornya yang perlu dipesan dulu. Cara ini juga tanpa pencacahan, jadi tidak perlu mesin pencacah atau parang.
         Murah. Biaya pembuatannya sangat murah. Bahan-bahan dan alat pendukung lainnya pun bisa menggunakan bahan lain yang lebih murah, jika ada. Manfaat. Kompos ini tiak diragukan lagi memiliki banyak manfaat. Insya Allah.
E.     Masalah Yang Terjadi Selama Fermentasi
Masalah Pengomposan Jerami yang Paling Sering Ditemui yaitu:
KURANG AIR. Kompos jerami biasanya kurang air pada bagian tengahnya. Oleh karena itu di sarankan untuk selalu memeriksa kompos pada minggu pertama. Periksa sampai bagian dalam, kalau kering. Tambahkan air secukupnya, kemudian kompos ditutup kembali.








BAB III
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Manusia dan Sifat Keingintahuannya
Manusia adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna di muka bumi ini. Tanda-tanda kesempurnaan ini amat banyak, antara lain kelihatan bahwa manusia (normal) dianugerahi dengan panca indera, akal pikiran dan budi pekerti. Manusia merupakan makhluk yang dapat dan akan selalu berpikir. Mereka akan selalu memiliki hasrat rasa ingin tahu dan ingin mengerti.
Manusia dengan hasrat ingin tahunya membuat mereka dapat memecahkan setiap permasalahan dan pemikiran yang ada di dalam benaknya. Apabila rasa ingin tahu ini dapat dimanfaatkan dengan baik maka akan membawa manusia semakin mengerti dirinya sendiri. Lebih jauh lagi, lewat rasa ingin tahu, manusia dapat mengetahui kebenaran karena segala sesuatu yang tampak nyata dalam hidup tidak sepenuhnya benar. Dengan demikian rasa ingin tahu dapat membuka pikiran manusia dan membuat manusia merasakan pengalaman baru yang akan menstimulasi pikirannya dan melepaskan emosi yang kreatif.
Rasa ingin tahu dapat menembus batas penalaran yang biasa manusia terima dan akan membongkar setiap detail yang menggerakkan sebuah proses. Semakin manusia mengerti detail, maka semakin mereka mengerti prosesnya. Hal inilah yang akan membuat manusia menjadi lebih produktif. Kita sebagai manusia akan terus belajar lebih banyak saat rasa ingin tahu menyelimuti kita. Kita akan menembus batas-batas pemikiran kita. Semakin banyak yang kita pelajari, semakin banyak pula yang akan kita tahu. Dengan rasa ingin tahu yang kita miliki kita akan melihat berbagai hal dari sudut pandang yang berbeda. Sehingga kita akan selalu memikirkan dan menemukan cara alternative dalam menyelesaikan masalah yang kita hadapi.
Ilmu pengetahuan berawal dari kekagaguman manusia akan alam yang didiaminya dan dihadapinya. Karena manusia merupakan makhluk yang dapat berpikir lewat karunia akal pikiran yang diberikan oleh Tuhan, maka mereka memiliki hasrat ingin tahu. Rasa ingin tahu yang kemudian ditindak lanjuti dengan penggunaan akal untuk memecahkan masalah, adalah perbedaan mendasar kita dengan hewan. Jadi, setiap orang harus memiliki rasa ingin tahu, karena selama rasa ingin tahu ada dalam pikiran kita maka manusia akan terus belajar dan memanfaatkan otaknya bukan hanya sebagai pengisi volume batok kepala semata. Selama manusia dapat mengembangkan rasa ingin tahunya itu dengan cara-cara yang positif, maka ilmu akan terus berkembang.
Penggunaan pupuk organik ternyata dapat mengurangi penggunaan pupuk anorganik atau sintetis hingga sebesar 30 persen. Petani dapat memanfaatkan jerami  sisa panen padi untuk bahan baku pupuk organik. Petani cukup membenamkan jerami dan memberi decomposer supaya segera terurai. Cara sederhana ini dapat mengurangi penggunaan pupuk sintetis hingga 30 persen dibanding jerami dibakar saja. Decomposer yakni merupakan formula alami  yang mengandung  bakteri pengurai.  Petani pun cukup sekali menggunakan decomposer dalam beberapa kali  masa tanam.
Penggunaan pupuk organik juga dapat menyehatkan dan menyuburkan tanah sekaligus. Berbeda dengan pupuk sintetis yang hanya menyuburkan tanah saja.  Pupuk sintetis seringkali malah menurunkan keasaman tanah, membuat tanah jenuh air,  dan membunuh mikroorganisme yang menguntungkan tanaman. Penggunaan pupuk anorganik akan merusak lingkungan dan bisa menyebabkan produktivitas tanaman menjadi rendah. Keberhasilan penggunaan pupuk organik dan hayati untuk tujuan mengurangi  penggunaan pupuk sintetis telah diuji di persawahan Karawang, Cianjur dan Indramayu di bawah binaan IPB.
B.     Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi
Meningkatnya kemampuan memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai Iptek yang dilaksanakan dengan mengutamakan peningkatan kemampuan alih teknologi melalui perubahan dan pembaruan teknologi yang didukung oleh pengembangan kemampuan SDM, prasarana dan sarana yang memadai, serta peningkatan mutu pendidikan sehingga mampu mendukung upaya penguatan, pendalaman, dan perluasan industri dalam rangka menunjang industrialisasi menuju terwujudnya bangsa Indonesia yang maju, mandiri, unggul, dan sejahtera.
Menjadi sasaran pengembangan iptek pula terciptanya iklim usaha yang mendorong perkembangan produktivitas dan peningkatan proses pertambahan nilai di sektor produksi, menumbuhkan daya kreasi dan inovasi, serta mendorong perkembangan standar mutu produksi yang setara dengan standar internasional. Sasaran tersebut diarahkan untuk makin mempercepat proses alih teknologi serta menciptakan dan memperluas kemitraan riset, dan mengembangkan iptek yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Sasaran pembangunan iptek lainnya adalah meningkatnya kemampuan teknologi industri kecil dan usaha kecil serta koperasi. Demikian pula, diharapkan permasalahan pembangunan di daerah dan perdesaan seperti pengembangan sarana dan prasarana pembangunan makin dapat dipecahkan oleh hasil penelitian dan  upaya pengembangan iptek termasuk upaya menanggulangi kemiskinan.
Kebijaksanaan pembangunan bidang iptek di atas dilaksanakan melalui program-program berikut: (1) teknik produksi, (2) teknologi, (3) ilmu pengetahuan terapan, (4) ilmu pengetahuan dasar, dan (5) pengembangan kelembagaan iptek.
C.    Penyebaran dan Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Penyebaran dan pemasyarakatan iptek bertujuan untuk membentuk budaya iptek, meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengembangan dan penguasaan iptek, serta memberi kesempatan kepada masyarakat untuk memanfaatkan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang tersedia.
Berbagai kegiatan telah dilakukan untuk menyebarkan dan memasyarakatkan iptek. Kegiatan tersebut antara lain mencakup pembinaan kelembagaan profesi ilmiah, peningkatan penyebaran iptek di berbagai media massa, seminar, dan pameran. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman iptek di masyarakat.
Untuk meningkatkan kesadaran ilmiah dan menumbuhkan rasa ingin tahu di kalangan remaja telah dilaksanakan kegiatan lomba karya ilmiah remaja yang mencakup bidang ilmu  pengetahuan sosial dan kemanusiaan (IPSK), bidang ilmu pengetahuan alam (IPA), dan bidang teknologi yang penyelenggaraan kegiatannya telah berhasil menarik minat para remaja. Sampai tahun keempat Repelita VI, melalui kegiatantersebut antara lain telah berhasil dilaksanakan pemilihan peneliti remaja terbaik di bidang IPSK, IPA, dan teknologi; dan peneliti muda di bidang IPSK, IPA, teknik dan rekayasa, serta kedokteran.
Untuk mendukung industri usaha kecil dan menengah, telah dilakukan pelayanan teknis guna memperkuat penguasaan teknologi. Kegiatannya dilakukan bersama-sama dengan lembaga penelitian perguruan tinggi, dan badan usaha. Bentuk-bentuk pelayanan teknis yang telah dilakukan mencakup konsultasi dan bimbingan teknologi, perawatan mesin, pelatihan karyawan dan magang.











BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
1)  Dalam rangka  membangun pertanian yang berkelanjutan, maka hal utama yang harus dibangun adalah mindset petani terkait pentingnya penggunaan pupuk organik.
2)  Mengolah limbah pertanian menjadi pupuk organik dapat dilakukan di tempat di mana limbah tersebut dihasilkan sehingga akan lebih memudahkan petani dalam pengolahan dan pemanfaatan limbah pertanian.
B. Saran
1)   Sebaiknya penyuluhan tentang pentingnya peranan pupuk organik terhadap  lahan persawahan perlu terus ditingkatkan. Dalam memberikan penyuluhan kepada petani, sebaiknya disampaikan proses kerja pupuk organik yang lambat dalam memperlihatkan hasil tetapi dalam jangka panjang akan bermanfaat dalam meningkatkan produksi pertanian.
2)   Sebaiknya digalakkan pengolahan limbah pertanian di lahan produksi pertanian sehingga memudahkan petani untuk mengolah dan memanfaatkan limbah pertanian.
3)   Meningkatnya kemampuan memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai Iptek yang dilaksanakan dengan mengutamakan peningkatan kemampuan alih teknologi melalui perubahan dan pembaruan teknologi yang didukung oleh pengembangan kemampuan SDM, prasarana dan sarana yang memadai, serta peningkatan mutu pendidikan sehingga mampu mendukung upaya penguatan, pendalaman, dan perluasan industri dalam rangka menunjang industrialisasi menuju terwujudnya bangsa Indonesia yang maju, mandiri, unggul, dan sejahtera.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Thank's :)